Wednesday, November 2, 2016

Terkait Aksi 4 November

Jika umat Muslim melakukan demo karena ada orang Kristen yang dianggap melakukan penistaan agama, lalu apa kabar dengan kami yang seringkali dibilang 'kafir' dan 'ajaran sesat'?

Kalau dibilang tersinggung, bukankah seharusnya kami sudah lebih dulu tersinggung?


Kalau kami tidak melakukan apa-apa, bukan berarti kami tidak marah. Namun karena hanya ingin mengamalkan ajaran Yesus yang diajarkan kepada umat-Nya melalui doa Bapa Kami '....seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami....' :)



Saturday, October 29, 2016

Things That Make Me Happy Today

Karena domisili saya sekarang adalah di Jogja dan suami bekerja di Sidoarjo sedangkan rumah kami berada di Malang, maka mau tidak mau kami harus menjalin hubungan jarak jauh. Jauh waktu pacaran sudah biasa, tapi beda rasanya kalau jauh setelah sudah menikah :(. Jika memungkinkan, saya usahakan setiap weekend selalu pulang ke Malang, atau menjenguk suami ke Sidoarjo kalau dia pas lembur. Tapi weekend ini saya stay di Jogja karena 2 minggu kemarin sudah remuk PP Jogja-Malang/Sidoarjo.

Agar weekend kali ini tidak gloomy (karena kangen suami), maka saya coba berpikir positif dan me-list, kira-kira hal apa yang membuat saya senang hari ini.

1. Bisa bangun pagi dan olahraga, setelah sebelumnya hanya wacana belaka
2. Sarapan lontong opor dan telur
3. Punya waktu me-time dengan mengerjakan tugas di perpus
4. Baru saja men-download film Idiocracy, nanti malam akan menontonnya
5. Nanti sore akan ke Festival Korea dengan teman kos
6. Bersyukur bisa makan, walaupun gusi bengkak gara-gara gigi bungsu selama seminggu terakhir


Semoga weekend kali ini menyenangkan :)

Thursday, October 27, 2016

Wedding Preparation Journey (including vendor review in Malang) Part 1

Halo! Rasanya sudah lamaaa sekali sejak terakhir meng-update blog ini. Akhirnya sekarang ada waktu juga untuk menulis ini itu, termasuk satu hal yang akan saya bahas di postingan kali ini.

Iya, saya baru saja melangsungkan pernikahan dengan Mas Wima, pada bulan September 2016 lalu. Rasanya masih agak nggak percaya juga, karena dulu sempat kepikiran kalau akan menjalin hubungan serius setelah lulus S2. Tapi, emang jodoh nggak kemana ya, hehe.

Di postingan kali ini saya akan membahas tentang persiapan yang kami lakukan selama menuju pernikahan. Harapan saya sih, bisa untuk sharing buat teman-teman yang akan melangsungkan pernikahan di Malang, dengan adat jawa lengkap, plus tanpa bantuan WO.


Jadi, apa aja sih yang harus disiapkan (selain menyiapkan mempelai pria, tentu saja. Hehehe.)?

1. Tanggal pemberkatan dan resepsi pernikahan
Karena keluarga saya masih memegang teguh (ceilah) adat jawa, maka hal pertama yang harus ditetapkan adalah tanggal. Dalam hitungan jawa (yang saya juga nggak tau bagaimana cara menghitungnya), tanggal pelaksanaan pemberkatan atau akad sangat krusial, termasuk jam dilangsungkannya pemberkatan. Penentuan tanggal resepsi juga penting, karena biasanya sebelum resepsi dilaksanakan ritual 'temu manten'. Di pernikahan saya, jam 'temu manten' ini juga ditentukan. Konsekuensi penentuan tanggal ini adalah.........

2. Pemilihan gedung
Kalau teman-teman saya yang lain banyak yang menentukan gedung dulu baru menyesuaikan dengan jadwal gedung itu kosong, di keluarga saya justru sebaliknya. Gedung harus mengikuti tanggal yang ditetapkan, dan ternyata ribet bukan main. Kebetulan tanggal yang kami pilih adalah tanggal baik di hitungan jawa, sehingga bisa ditebak bagaimana ruwetnya masalah pergedungan ini. Saya sudah mulai mencari gedung bulan Januari, tapi gedung yang kami incar sudah full semua. Oh ya satu lagi. Ayah saya menginginkan gedung yang bisa dipakai full seharian, dengan alasan agar kami tidak terburu-buru dalam persiapan dan juga apabila pesta dibubarkan tidak sesuai jadwal, tidak diganggu oleh acara di jam berikutnya. Dan susah sekali mencari gedung yang bersedia dibooking seharian, karena mereka tentu akan rugi jika hanya menyewakan sekali dalam sehari. Saya sudah muterin mulai dari Sasana Krida, Taman Krida, Bakorwil, Skodam, VEDC, lalu ke hotel-hotel seperti Savana, Atria, Kartika Graha..semuanya full, atau tidak bisa disewa seharian penuh. Awalnya kami sempat deal dengan gedung VEDC, namun karena miskomunikasi, bulan Maret kami diberi tahu bahwa gedungnya tidak bisa disewa sehari penuh. Akhirnya bulan Maret kami mencari lagi, lalu ketemulah Gedung Graha Tirta di Jalan Bendungan Sengguruh. Gedung ini sebenarnya luas, lebih luas dari Sasana Krida bahkan. Tapi sayangnya, jalan menuju gedung adalah jalan perumahan yang sempit, sehingga agak menyulitkan para tamu. Namun soal kapasitas, dengan tamu undangan saya yang mencapai 1600 orang, tamu undangan tidak terlihat berdesak-desakan saat berada di dalam gedung. Penampakan gedung pada saat acara, akan saya posting di postingan berikutnya ya.

3. Salon
Sejak awal Ibu saya menginginkan bahwa konsep pernikahan ini adalah full jawa, sehingga dari awal sampai akhir, sebisa mungkin menggunakan nuansa jawa, termasuk foto prewedding. Untuk resepsi, saya sempat bingung antara tiga vendor besar di Malang. Namun setelah memilih, untuk resepsi saya menggunakan Didiet Salon , dan untuk prewedding saya menggunakan Gandhi a.k.a Joegandoz. Untuk 2 MUA ini, sebisa mungkin booking dari jauh hari, karena jadwal mereka sangatttt padat. Saya mulai booking Mas Didiet dan Gandhi sekitar bulan Februari.


Di prewedding saya menggunakan 2 konsep. Sebenarnya konsep utamanya adalah nuansa jawa, namun ditambahi juga dengan konsep non-jawa, karena sayang sudah cantik-cantik makeup cuma buat satu sesi saja, hehe. Untuk hasil nggak usah ditanya, Gandhi sangat smooth ngerjainnya.


Hal yang membuat saya dan Ibu klik dengan salon Mas Didiet adalah riasannya yang jawa sekali, namun tidak terlalu medok. Juga dengan bajunya yang pakem jawa, bukan kebaya modern. Semua baju yang saya kenakan adalah dari salon Mas Didiet, kecuali satu kebaya setelah siraman. Di pemberkatan, saya menggunakan adat Jogja putri, sedangkan resepsi menggunakan adat Solo putri. Untuk hasil rias resepsi, akan saya bahas di postingan terpisah.

By the way, satu pengalaman agak traumatik terkait masalah rias ini adalah sanggul. Karena acara saya full dari Kamis-Sabtu dan semuanya memakai sanggul jawa, maka supaya tidak ribet di hari berikutnya, saya nggak boleh keramas selama 2 hari. Bayangkan saja tidur 2 malam dengan sanggul masih berdiri tegak, gimana rasanya hahahaha. Di hari Sabtu, kepala saya sudah pusing luar biasa karena rambut ketarik-tarik selama 3 hari. Setelah resepsi, saya langsung balas dendam. Keramas sampai rambut bersih, dan akhirnya terkapar sakit di tempat tidur sampai hari Minggu, hihi.

4. Katering
Selama rangkaian acara siraman dan resepsi, kami menggunakan katering Sonokembang. Di acara siraman, agak susah mencari katering yang menyediakan 'printilan' siraman, mulai dodol dawet, ubo rampen, sampai tumpeng. Jadi karena alasan kepraktisan, kami menggunakan Sonokembang di acara siraman dan resepsi. Untuk katering resepsi (ini yang paling krusial), akan saya ceritakan di postingan terpisah. Overall, I have no complaints. Makanan sesuai porsi, dan rasanya istimewa.



5. Foto
Untuk vendor foto ini, saya sempat melakukan komparasi hasil foto dan harga paket di beberapa vendor foto Malang. Akhirnya, mendapatkan tim Mas Atam untuk deal di acara saya. Kebetulan, istri Mas Atam adalah senior saya di UKM kampus dulu sehingga komunikasi kami berjalan baik. Untuk hasil foto Mas Atam dan tim, bisa cek di instagram mereka, ocraphoto. Vendor foto di Malang banyak sekali dan kualitasnya rata-rata bagus, sehingga siapa yang akhirnya akan kita hire tergantung dari selera kita terhadap hasil foto vendor yang bersangkutan (dan budget tentunya, hehe). Saya suka dengan hasil foto tim Mas Atam karena pengambilan moment dan filter yang bagus.



6. Dekorasi dan Tenda
Ayah saya adalah orang dekorasi, sehingga beliau sangat cerewet terkait dekorasi acara, termasuk penataan bunga sekalipun. Karena tahu saya suka warna pink, akhirnya diputuskan tema untuk pernikahan ini adalah pink dengan kombinasi abu-abu dan putih. Untuk dekorasi, kami memakai jasa Djoko Dekorasi. Sedangkan tenda dan slayer memakai jasa Global Production. Dekorasi di gedung akan saya bahas di postingan berikutnya.



7. Souvenir
Untuk siraman di rumah, souvenir yang diberikan untuk tamu undangan adalah handuk berbentuk boneka. Souvenir ini kami pesan di toko daerah Pecinan (saya lupa namanya). Sedangkan souvenir resepsi adalah kantong serbaguna, juga akan saya bahas di postingan terpisah. Untuk souvenir, karena vendornya juga banyak, jika mau mendapatkan souvenir yang bagus dan harga yang masuk akal, kita memang harus rajin mencari informasi dan membandingkan. Juga, jangan sampai memesan souvenir terlalu mepet. Jaga-jaga saja misalnya ada hal tidak terduga. Saya memesan ini H-5 bulan sebelum acara.




Semoga review part 1 ini berguna ya. Di postingan selanjutnya saya akan sharing tentang detil-detil resepsi pernikahan, serta apa yang perlu disiapkan. Enjoy.

Thursday, October 15, 2015

Mimpi Bersama

Tulisan ini adalah tulisan bapak yang dibuat oleh beliau sekitar setahun yang lalu. Waktu itu, saya bingung menentukan pilihan pekerjaan yang datang. Saat saya cerita ke bapak tentang kebingungan itu, bapak tidak menjawab, malah langsung menulis ini. Tulisan ini, masih ada di kamar saya sampai sekarang dan menjadi pegangan saya waktu harus memilih satu diantara sekian pilihan.

Seperti yang terjadi sekarang. Kasus saat ini: Memilih prioritas.
Sejak mulai bekerja 1,5 tahun yang lalu, saya sudah mulai merancang hidup saya. Apa yang akan saya lakukan 5-10 tahun ke depan. Di usia saya yang sekarang ini, jika melihat catatan saya kebelakang, tujuan utama adalah melanjutkan sekolah. Sejauh mungkin. Ada mimpi-mimpi yang ingin saya bangun dari sana. Dari 1,5 tahun lalu, saya sudah jungkir balik untuk menyiapkannya (dan yeah, sampai sekarang masih menemui jalan buntu). Target saya, saya tidak akan menyerah, paling tidak sampai pertengahan tahun depan. Pas dengan masa kerja 2 tahun.

Tapi, ternyata saya tidak memperhitungkan faktor lain yang kemungkinan besar bisa mengganggu rencana saya ini. Untungnya, gangguan yang datang adalah gangguan yang menyenangkan, yang saya tidak sabar untuk segera memulainya. Walaupun menyenangkan, tapi kembali lagi, apakah saya sudah siap melepaskan mimpi saya? (Mungkin lebih tepatnya bukan melepaskan sih, tapi mereduksi) Apakah saya sudah siap mengkhianati usaha selama 1,5 tahun ini? Apakah keputusan ini akan worth the pain?

Sampai akhirnya saya menemukan postingan blog Falla Adinda ini. Bahwa 'grow old together with someone whom you really love' tidak seharusnya menjadi akhir, tapi fase kehidupan yang mungkin saja memang harus saya lalui lebih awal dari rencana saya sebelumnya. Tidak menghentikan mimpi, tapi menjadikannya mimpi bersama.


Semoga semua dilancarkan :)

Tuesday, September 29, 2015

Maze Runner

Current time: 9.23. 20 minutes before my class.
And here I am, with many thoughts crossed over my mind, like there is a mind-maze inside, and don't ask me to solve those, I don't even know how to begin.

People say that too much worry will kill you. Maybe they're right, but you just can't stop for being worry.

Well, instead of blabbing here, maybe I should start to run around the maze and find the answer.

Monday, September 7, 2015

For The First Time

Dulu, ketakutan terbesarku setelah harus mengakhiri hubungan dengan mantan-nomor-lima adalah aku, dengan tanpa daya, pada akhirnya harus menikah dengan laki-laki pilihan orangtua yang sebenarnya aku nggak sreg-sreg amat. Karena aku apatis ada orang yang bisa ngerti aku di umur segini masih baca Miiko, ngefans Iron Man, ambisiku untuk sekolah lagi, sampe dengan segala kebandelanku yang suka ngabur gak jelas.
Tapi ternyata, justru disaat kepasrahan itu melanda, Tuhan justru kirim seseorang yang, well, I must say, beyond my expectation. Baik banget ya?

Dan memang, selalu ada yang pertama untuk segala hal.
Pertama kalinya aku lihat bapak dengan semangat 45 ngajak dia untuk ngobrol tentang mobil (yang kebetulan memang hobi mereka berdua). Pertama kali 'menitipkan' aku ke orang lain dengan berkata 'Kalo di Surabaya kamu bingung, telpon masmu aja.'
Pertama kalinya aku lihat ibu panik whatsapp dan menelpon dia untuk menjemputku pulang dari lokasi penelitian malam-malam. Mengkhawatirkan apakah setelah mengantarku, dia sudah sampai di rumah atau belum.
Pertama kalinya adik, yang sebelumnya selalu ogah kalo aku peluk, tiba-tiba ngerangkul aku dan bilang 'Abis ini kamu pergi ya mbak..'
Dan pertama kalinya juga, aku merasa yakin bahwa dia akan menjagaku, ah no, menjaga keluarga kami dengan baik.
Karena nggak ada yang lebih keren lagi dibanding laki-laki yang bertanggung jawab pada keluarga kan?



Counting the days till we tied the knot :)

Monday, July 13, 2015

Bentuk yang Lain

Jadi, sudah beberapa waktu belakangan, saya balik lagi ke hobi awal: baca buku. Hobi ini sempat tergerus oleh drama-drama Korea (masih belum nonton The Producer nih :() dan variety show Korea (Running Man semakin membosankan, menurut saya). So, karena adanya peer and work pressure - secara kerja juga di lingkungan akademis jadi kalo ga baca banyak akan semakin terlihat bego - saya mulai baca-baca lagi, baik yang berhubungan dengan ilmu komunikasi atau yang lain.

Suatu hari, ada teman (bukan teman hidup, red) menitip dicarikan buku ke Pasar Buku Wilis ke toko langganannya. Buku yang dia cari nggak dapat, malah saya yang sibuk sendiri cari-cari buku. Di toko ini, mostly menjual buku yang nggak umum alias jarang ada di toko buku lain. Setelah ngubek-ngubek, akhirnya saya beli buku 'Dunia, Manusia, dan Tuhan', buku antologi tentang filsafat ketuhanan. Buku ini merupakan kumpulan artikel dari para pastor SJ (Serikat Jesuit) tentang agama dari sudut pandang filsafat. On the other topic, kalau berbicara tentang ordo Serikat Jesuit, sejauh yang saya tahu, Romo-Romo yang berada di bawahnya memang banyak yang fokus ke ajaran filsafat (tanpa mengesampingkan teologi (?)). Salah satunya adalah Romo Haryatmoko - yang untungnya saya pernah bertemu langsung - waktu itu saya hadir di kuliah umum beliau tentang wacana kekuasaan Michael Foucault.

Dari sekian banyak tulisan, ada satu tulisan yang menarik perhatian saya (atau lebih tepatnya sih yang saya mengerti, karena lainnya terlalu rumit) dan memberikan gambaran secara gamblang tentang apa yang menjadi keresahan buku ini. Dalam artikel yang berjudul 'Manusia dalam Ateisme Modern', Romo Tjahjadi mengupas tentang pemikiran ateisme dari the founding fathers : Marx, Feuerbach, Sartre sekaligus antitesis yang beliau wacanakan. Sintesis yang saya temukan adalah, bahwa sebenarnya ateisme adalah bentuk agama yang lain. Istilah gampangnya, men-Tuhankan manusia. Lalu saya jadi berpikir, apa bedanya pemeluk-agama-tertentu fanatik dan ateis fanatik? Tidak ada. Keduanya sama-sama mengimani sosok/rupa/bentuk tertentu sebagai 'penanggungjawab' akan apa yang terjadi di alam semesta. Tuhan versus ilmu (yang jelas merupakan hasil konstruksi manusia). Tapi, kembali lagi ke tesis yang diajukan Feuerbach: bukankah Tuhan juga merupakan konstruksi pikiran manusia?


Memikirkan ini, kok jadinya setara dengan pertanyaan 'duluan ayam atau telur ya?'

Sunday, July 12, 2015

Mantra

Jika kebodohan dapat membuatku
jatuh berkali-kali ke lenganmu
aku akan memilih
jadi tua dan dungu


(Andi Gunawan dalam 'hap!')

Sunday, June 28, 2015

I Don't Really Agree with John Mayer

It's really over, you made your stand
You got me crying, as was your plan
But when my loneliness is through, I'm gonna find another you

You take your sweaters
You take your time
You might have your reasons but you will never have my rhymes
I'm gonna sing my way away from blue
I'm gonna find another you

When I was your lover
No one else would do
If I'm forced to find another, I hope she looks like you
Yeah and she's nicer too

So go on baby
Make your little get away
My pride will keep me company
And you just gave yours all away
Now I'm gonna dress myself for two
Once for me and once for someone new
I'm gonna do somethings you wouldn't let me do
Oh I'm gonna find another you

Sunday, May 31, 2015

Sure Thing


And I feel like I slapped right in the face.
Maybe because I'm including in the term he referred to.

Wednesday, April 16, 2014

Review: Captain America The Winter Soldier

Starring: Chris Evans, Scarlett Johansson, Anthony Mackie
Directed by: Anthony and Joe Russo

For Marvel's movie, it doesn't matter who is the director. The main actor who matters...and bam! Their movie were ALWAYS satisfying, at least for me :p
So yeah, it worth the wait. For you who has become Captain America's fans since his first movie, this second movie will please you. The plot itself is so spy-ish, 'there's a ground under ground' - something like that. SHIELD, where Steve Rogers work, actually is the base of Hydra, nazi organization that Captain has to burn in the first movie. There's no love line, something that rarely found on superhero's (or Marvel) movie. The fighting scenes were also amazing. Hopefully, Chris Evans would be playing as Captain America forever. It might be strange if someone else playing that role.

Monday, January 20, 2014

Screwed

Well, I turned 23 now, and things have been so complicated these days.
I thought it gonna work well, as smooth as I can imagine,
but...it doesn't.
23 isn't time to be relax.
I'm freaked out, panic.
Things are not working the way I want it to be.
It's time to be panic because the decision might changes my life forever.

Once, Cristina said to Owen (it probably roaming for you who haven't watch Grey's Anatomy):
"Don't overcomplicate it."

Maybe I should said it more often to myself.

Saturday, December 21, 2013

Review: The Hobbit The Desolation of Smaug


Directed by: Peter Jackson
Starring: Martin Freeman, Ian McKellen, Benedict Cumberbatch, Orlando Bloom, Richard Armitage


It's good that Peter Jackson put some scene in the opening which remind us what's the point of this journey by those dwarves and hobbit since the first prequel was already a year ago; the reason why Thorin come along the way to Eerebor, to reclaim dwarf's homeland from Smaug, with the helps of Bilbo who has to stole the Arkenstone. The whole movie itself shown how they made the journey into Erebor and finally meet with The Unbeatable Smaug. And for you who watching LOTR because of Orlando Bloom, you gotta love this movie more because there's Legolas yaaaayyy! There are also some scene of forbidden love happens, when Kili (the dwarf) like Tauriel (elf), quite same with what happen between Aragorn and Arwen in LOTR. Anyway, if you put attention in some scene, you'll see its connection to some story in LOTR, like Gloin who actually is Gimli father (dwarf who accompany Frodo to destroy the rings) and the first appearance of Sauron. What I hate from this kind of trilogy movie is the fact that I have to wait until one year later to know the ending.

Wednesday, December 18, 2013

The Heirs (And The Hottest Man In The World)

It's been a while since The Heirs drama has been released. I didn't rush to watch it even Echa has offering to give the files. I just don't like the idea that I have to wait one week more to see how the story's going. I want to finish in one go. So, here I am. Been locked up in my room for two days, only get out for meals and wrapped up some things in college, then come back into my crib.

The stories itself was like other typical Korean drama. Poor girl that likes rich boy and they have to overcome many
obstacles to go through, then so many people that involved and makes it more complicated.

.....including this guy. Blame him for making me stay in front of my laptop for at least 20 hours. I even dreamt about him last night :p




Kim Woobin as Choi Young Do

He acted as a bad boy that always bullying people in the school, including Eun Sang. But turned out he likes Eun Sang....and because he's bad in express his feeling, Eun Sang feels like Young Do is threatening and insisting his will towards her. Actually, he's soft against woman he loves. Such a gentleman, right? :3 Too bad Eun Sang choosing Kim Tan instead of Young Do.






I love you Woobin oppa!

Thursday, December 12, 2013

Review: The Hunger Games Catching Fire


Directed by: Francis Lawrence
Starring: Jennifer Lawrence, Liam Hemsworth, Josh Hutcherson


Actually I've been watching this about 2 weeks ago with Ziyan and Raga, but have no time to write the review heheheh. So, here we go.

Name it as movie you've been waiting for since 2012. In the first Hunger Games, the movie itself just shown how the Hunger Games works, how Katniss and Peeta struggling until they won the games. After watching the first movie, I thought that the movie was ended at Katniss-won-the-game-so-game-over point. I didn't know that there're Hunger Games saga books and the second movie would be released at 2013. After I knew it, I didn't read the book deliberately, so I didn't compare the books and the movie when I'm watching.

The waiting (fortunately) paid off. There were dramas, action, conflict...mixed into one. That after Katniss and Peeta won, people considering them as symbol of hope..and love (even that was set up). It could bring some rebellion among people against Capitol. I've read a review about this in Huffington Post, somehow it shown some kind of Marxism ideology, when working class (proletarian) showing their displeasure towards bourgeoise class. Thus, Capitol wanted to destroy their hope by killing Katniss and Peeta within Quarter Quell, Hunger Games within the winners. To win among those winner, Haymitch advising Katniss and Peeta to ally with others. Finally, they got Finnick, Johanna, and 2 other people from somewhat district that I forgot :p. In the end, it shown that actually Heavensbee, Haymitch, and Finnick already planned this to fight against Capitol, but Peeta and Johanna were kidnapped...and to be continued to Mockingjay (would be released in 2014). For full stories, you gotta see it by yourself. It's no fun if you just read the review :p

Anyway, when I saw love triangle between Katniss-Peeta-Gale, I remembered about (almost) the same triangle between Bella-Jacob-Edward. Quite same, isn't it? Also I appreciate how Jennifer Lawrence bring the character of Katniss Everdeen. The character was strong and different from the way she acted as Tiffany in Silver Linings Playbook. If we compared to Kristen Stewart when she acted as Bella in Twilight Saga and Snow White in Snow White and The Huntsman which we couldn't see the differences...well, no wonder Jen got the Oscar.

Can't wait for Mockingjay! :D

Tuesday, November 19, 2013

Dr. Antoni

Well, after a year of struggle (and mostly tears), finally my thesis is finished yaay! Now I'm still working on the revision, used for yudisium's requirement.

On my thesis defense, I got Mr. Antoni and Mr. Fikri as my prober. FYI, Mr. Fikri is a new lecturer while Mr. Antoni....well, what can I say about him? The students called him 'walking dictionary'. He is genius! With all respect to my other lecturer, but he knows all. I mean, ALL! He even knows which theories in which book in which page. He made me read a lot of books which I haven't read before (well, what have I been doing since the first semester? *-_-)....and surprisingly, I'm enjoying this. I wanna know more about communication studies.

Suddenly think to take master degree and becoming lecturer....
Amen to that? :)

Wednesday, November 13, 2013

How Could We Know?!

Senin kemarin, dalam edisi nungguin hujan reda. Ada aku, Uyab, Firdha, Findha, ama Tari. Kita nungguin hujan reda mulai jam 1 dan sampe jam 4 belum kelar-kelar juga. Nggak heran lah ya kalo obrolan jd ngelantur kemana2. Awalnya ngomongin gimana ngatur keuangan, gimana sih biar hemat, dsb. Eh lama2, sampai juga ke masalah cowok.

Uyab: Cowok itu ada 2 macem. Tipe pertama, ada cowok yang suka tantangan. Dia orangnya harus terus dibikin penasaran. Kalo ditengah2, dia ngerasa kalo ceweknya gampang didapetin, ya dia bakal males. Nah kalo cowok tipe kedua, ini tipe cowok yang ceweknya juga harus ikutan ngode, biar cowoknya tau kalo si cewek ini juga suka.
Findha: Trus gimana caranya kita tau cowok ini tipe pertama atau kedua?
Uyab: (diem bentar) Ya pake feeling
Aku, Firdha, Findha: Ya menurut nganaaaaa gimana caranya kita bisa nebak?!

Emang gimana sih caranya bisa nebak cowok mana yang tipe pertama atau tipe kedua?

Monday, November 11, 2013

Neither Faking Nor Saying The Truth

So, random things just happened this morning. When I woke up then took a bath, suddenly I thought about this stuffs. Which one is better when you are on approach term (or PDKT, in Indonesian term): you just be the real yourself no matter how silly you are OR you create an image as an ideal woman to get him as your guy?

I remembered, I talked with few friend about this topic. One friend (woman) said that yes indeed you HAVE to act like who you are, no faking things, no creating image. But the other friend (guy) said that when you're approaching someone, you are in game mode, which means that you have to be strategic! Pull-and-push, no badmood period....because the approach term are crucial. The guy will value you in the early 2 weeks. That's why, in that 2 weeks, the woman has to create a good image so the guy will attracted.

I do admit both of them are true, if you seeing it from different perspectives (yeah, since men are from Mars and women are from Venus). But, I still haven't get the answer even after I heard those argument from them: which one is better? Which one do you choose?

But if you asking me, probably I would answer like this:
I want the guy who accept me for the way I am from the first time we know each other.
I want the guy who all okay even I'm Milanisti when he's Juventini
I want the guy who all okay even when I'm eating a bowl of soto and another fried chicken in one go
I want the guy who all okay when we're eating ice cream together, and I'm asking 'may I have your ice cream? I want more'
I want the guy who all okay when I'm not replying his message while I'm so excited to read a lot of comics
I want the guy who all okay when I'm singing ABG Tua in front of him, with dancing of course
I want the guy who all okay when I'm dominating the conversation while we're dating
I want the guy who all okay talking about politics, ideology, sports, gossips, and others
I want the guy who all okay when I call him and cry for some trouble I could've been made that day
I want the guy who all okay when I'm cranky since I'm on period

Am I asking too much?

Sunday, October 27, 2013

Review: Captain Phillips

Starring: Tom Hanks
Directed by: Paul Greengrass


Actually the only reason why I want to watch this movie is the one and only Tom Hanks. When I saw the genre of this movie (action), I expected that Tom Hanks will play as man-with-the-gun roles. So yaah, I'm quite dissapointed with that sih. Just a little bit btw.
I always dreaming that I would like to be a war journalist, then being kidnapped, end up I'm saved by the government (HAHAHAHA!). Thus, I was excited when I saw this kidnapping scene. Honestly, I'm more captivated by the negosiator roles. They're so damn awesome when tricking the kidnapper, especially when the 3 kidnappers were shot in one shoot! I want to be saved like that somedaaay (another HAHAHA!)
Tom Hanks roles? Is it just me or maybe the other also think that the title shouldn't be 'Captain Phillips' but 'Saving Captain Phillips'?

Wednesday, September 25, 2013

Review: Insidious Chapter 2

Starring: Patrick Wilson, Rose Byrne, Lin Shaye, Ty Simpkins, Barbara Hershey
Directed by: James Wan


So, for the third time, aku digeret lagi buat nonton film horor, this time was Insidious 2. As I said before, karena aku emang nggak suka film horor, jadinya aku nggak ngikutin Insidious yang pertama. Buat yang mau nonton sih, kalo gak nonton yang pertama, pasti agak bingung soalnya berkaitan banget, kayak contohnya pintu merah yang jadi pintu masuknya ke The Further, itu juga ada. Dan sungguh, nonton Insidious 2 ini beneran nggak baik buat kesehatan jantung. It's waaaayyy moooreeeee thrilling than The Conjuring even it got 7.2 at iMdb while The Conjuring got 7.7. Hantunya ngagetin dan nakutin semua hiks :'(

I can say that Insidious 2 ini adalah conclude dari film pertamanya. Buat yang nonton Insidious pertama (ini aku juga diceritain temenku sih), pasti masih inget scene dimana ada bride in black dress? Atau 3 perempuan di ruang tamu yang pake baju putih? Nah ntar bakal ketauan asal muasalnya kok. Termasuk hantu perempuan yang ada di Insidious pertama; dia siapa, kenapa kayak gitu, bakal kejawab. Nah, di ending Insidious pertama kita juga taunya Josh masih terperangkap di dunia mimpi kan. Trus, yang di tubuh Josh sekarang siapa? Itu ntar bakal ke-link back ama hantu perempuan di Insidious pertama. Yang so sweet, di Insidious pertama kan Josh nyelametin Dalton biar balik ke dunia nyata (dan Josh-nya ketinggalan disana). Di Insidious ini, Dalton-lah yang nyelametin ayahnya balik ke dunia nyata. Happy ending kok :)

Anyway, kalo lihat endingnya sih, kayaknya bakal ada Insidious 3, with Tucker, Specs, and Elise (her spirit) are on the cast. Masalahnya, aku berani nonton lagi atau nggak ya? -_-*